Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Surat Cinta Pertama

“Disini saya sebagai perwakilan murid baru mengucapkan terimakasih kepada kakak kelas dan bapak ibu guru yang telah membimbing kami selama masa orientasi dan juga kami berharap bapak ibu guru masih mau membimbing kami selama kami sekolah disini…..” Badannya yang tegap dan ucapannya yang mantap membuat semua orang dalam aula terkesima dengan pidatonya. Adalah Rama, siswa dengan nilai tertinggi saat pendaftaran di sekolah ini. Pantaslah dia dipilih menjadi perwakilan siswa baru. Dia mampu menyampaikan pidato rumitnya dengan lancar.  Dan sejak itulah aku mulai mengaguminya, sejak dia mengucapkan salam dan mengedarkan senyum ke seluruh penjuru aula.Tanpa alasan apapun, rasa ku dia tersenyum hanya untuk ku. Terhitung sudah hampir 3 tahun aku mengaguminya dengan segala daya tarik yang dia miliki. Aku belajar menyukai apa yang menjadi kecintaannya, mencari jarak sedekat mungkin hanya untuk melihatnya, menghabiskan waktu istirahat untuk memperhatikannya berkutat dengan buku...

Gravitasi

Dimas. Dia adalah salah satu nikmat Tuhan yang tidak mampu aku tiadakan. Meskipun kadang dia tiada. Entah kembali untuk waktu seberapa lama. Seberapa lama pun dia, seberapa jauh, dan seperti apa yang menjauhkan. Ada beberapa hal yang membuat ku percaya bahwa dia tetap kembali untuk ku. Tidak perlu mengatakan “Jangan lupakan aku” karena hanya akulah yang dia cari saat dia ingin berbagi, berbagi apapun itu. Aku dengan tenang memandangnya saat dia mulai berbagi hal yang menurutnya menarik, kemudian aku akan tersenyum saat dia berhenti sejenak untuk menyeruput Caffe Latte yang menjadi kesukaanya dan saat dia sadar bahwa aku terus-terusan memandanginya dia akan menyodorkan Cotton Candy Farppuccino pesanan ku. Bukan karena skenario seperti itu, karena memang sudah terbiasa. Kadang dia bercerita dengan semangat mekantar-kantar, kadang dia hanya diam tapi menuntutku harus mengerti apa ceritanya, kadang dia menatap manis dengan tangan kanan menggenggam cangkir putih, kadang di...

Kami

Dia adalah penggemar Metallica, aku adalah penggemar Jason Mraz. Tapi pada saat Metallica ke sini, aku pun menonton konser itu. Dan pada saat Jason Mraz ke sini, dia menemaniku menontonnya. Dia suka makanan pedas, aku tidak. Akhirnya aku memasak tidak terlalu pedas untuk kami berdua. Pelan-pelan, aku bisa makan yang cukup pedas, dan dia pun mulai bisa mengurangi makanan yang dulu lihat sambal atau cabenya saja bisa membuatku kepedasan tanpa harus merasakannya. Dia tidak suka aku berpakaian seksi, dan aku tidak suka dia ke mana-mana berpakaian ala kadarnya. Untuk dihormati, kita harus terlebih dahulu menghargai diri sendiri. Lalu karena menghargainya, dan karena memang ada benarnya, aku mengurangi berpakaian seksi. Dia menganggapku berharga, jadi apa pun yang berharga seharusnya tidak diumbar ke mana-mana. Dan dia juga mulai merapikan diri ketika pergi ke mana-mana. Tidak harus berkemeja, kaos pun tidak apa-apa selama dia tetap rapi. Kami tidak berusaha menjadi orang l...

Ke-tiga

"Kata temen ku, yang ketiga kalinya biasanya jodoh loh, Ma ? Emang iya ?" "Yaudah besok kamu berangkat pagian, kak. Biar nggak keempat kalinya, nanti nggak jodoh" HAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAHAHHAHAHHAHAHAHHAHAH -Beberapa jam setelah kebetulan yang ketiga kalinya, hehe.

Rahasia Alaric

Perhatianku teralih dari nada monoton Prof Hasan pada pintu aula besar yang terbuka, memancarkan sedikit cahaya dunia luar pada ruang kuliah kami yang sedikit redup. Atau mungkin bukan karena derit pintu atau seberkas cahaya itu yang membuat suara dosenku itu bukan lagi menjadi fokus utamaku. Tapi sosok tinggi ramping yang langkah kakinya baru memasuki aula besar, yang dengan cueknya langsung menaruh ranselnya di jajaran meja paling depan. Gadis itu melirik sedikit ke arahku lalu mengeluarkan seulas senyum di bibir tipisnya. Sejenak kemudian, ia mengeluarkan diktat kuliahnya lalu bergabung dengan kami, terlarut dalam suara monoton Prof Hasan saat memberikan materi ilmu politik. Dalila namanya. Gadis bermata bulat, berhidung mancung, dan dengan figur tinggi ramping yang baru saja memasuki kelasku bernama Dalila, kalau kalian ingin tahu. Gadis yang sangat cantik sebenarnya, tapi laki-laki yang mendekatinya bisa dihitung dengan jari. Banyak yang mengatakan Dalila aneh, ab...

Sandiwara

“Pernah kah suatu hari, saat hati mu terus-terusan berkata tidak , menyangkal semua kenyataan. Namun diwaktu yang sama, di depan mereka justru kamu melawan hati  mu. Terus-terusan untuk berkata iya .Pernah ?” Awal musim panas lalu, kamu  memperkenalkan senyum hangat mu yang setiap pagi kamu sandingkan dengan sapaan pagi di depan kelas, menyambut ku. Sederhana memang. Namun, aku terkesan dengan semua tingkah-tingkah kecil mu itu, seberapa pun tidak masuk akalnya aku menyukainya. Sampai pada musim semi, aku masih dapat melihat kamu menggerakkan bibir mu saat berpapasan. Menyunggingkan senyum. Senyum siapa ? Bukan. Itu  bukan senyum yang aku lihat awal musim panas tahun lalu. Bukan senyum sapaan, bukan senyum hangat, terlebih senyum orang yang mendapat balasan senyum dari terkasihnya. Jelas bukan. Tuan, aku ingin bertanya. Kenapa bisa kamu bisa mempunyai senyum yang berbeda ? Apa pantas jika aku menyebutnya senyum palsu ?Atau begini, lebih spesifik lagi. -Senyum...

Sudut Coffee shop

Laptop, earphone, secangkir kopi dan duduk di sudut coffee shop dekat jendela, menjadi teman favorite disetiap sore saat weekend. Jika beberapa orang membutuhkan orang lain untuk menjadi moodboster aku hanya memerlukan suasana seperti ini untuk membuat mood ku membaik. Itu adalah salah satu kebiasaan ku yang kamu ketahui setelah 3 tahun kita berbagi cerita. Minggu sore ini, aku duduk sendiri dengan secangkir kopi panas kesukaan mu. Menengok ke kanan, dari jendela hujan sore sejak tadi membasahi. Dingin, memang. Seperti sikap mu kemarin saat kita bertengkar di tempat aku duduk saat ini. Kopi hitam kesukaan  yang sebulan lalu ada di depan mu, sekarang ada di depan ku. Aku memesannya hanya untuk mencicipi rasanya. Pahit. Itu kata pertama yang keluar dari mulut ku. Aku juga heran kenapa kamu begitu menyukai kopi hitam ini ? Setahu ku kamu selalu berbagi hal yang manis dengan ku saat kamu menyeruput kopi hitam itu. Dan saat ini, saat aku menyeruput kopi hitam kesuk...

Awal Mei

Tugas kelompok dari guru biologi awal Mei ini, mungkin adalah awal aku mengenal seperti apa gaya bercanda mu. Dan menjadi waktu kesekian kalinya aku melihat senyum dengan gigi rapih putih mu. Pesan singkat untuk janjian membahas tugas cukup membuat ku senyum-senyum geli, walaupun sepertinya kamu juga mengirimkan pesan semacam itu ke yang lainnya. Tapi, kamu berbeda. Ini hanya semacam perasaan suka, tidak lebih. Tidak, aku memang tidak mengharap lebih. Karen aku tahu, sikap lebih yang kamu tunjukan tidak untuk aku. Perempuan berambut sebahu yang duduk di depan mu di sudut cafĂ© dekat sekolah hari Minggu kemarin, dia yang mungkin cukup puas melihat senyum mu. Yang dibuat tertawa oleh mu, disela-sela seruputan es Cappuccino kesukaan mu. Entah perempuan itu memang menyukai es Cappuccino atau hanya menyamai kesukaan mu. “Ada rasa sakit ketika melihat mu bahagia, itu karena bukan aku yang membahagiakan mu”- Zarry Hendrik Kata-kata Zarry Hendrik itu awalnya aku pikir cocok untuk ku ya...