Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Goodbye Happiness

Kau dan aku tidak ditakdirkan untuk berada dalam satu kisah yang indah. Percaya atau tidak, begitulah kenyataannya. Jangan menyangkalnya karena akan sia-sia. Sama seperti berjalan di atas pecahan kaca, setiap langkah kita sesungguhnya hanya akan menuai luka. Kau dan aku seperti tengah mencoba untuk membirukan senja yang selalu merah. Kita sama-sama berusaha, tetapi tidak bisa mengubah apa-apa. Senja tetap berwarna merah dan hati ku tetap saja berkata tidak. Maka, berhenti dan renungkanlah ini semua sejenak. Tidak ada gunanya memaksa. Ini hanya akan membuat mu tersiksa dan aku menderita. Lantas, kenapa kita tidak menyerah saja ? Bukankah sejak awal semuanya sudah jelas ? Akhir bahagia itu bukan milik kita. -R-

Aku jatuh cinta.

Entah sudah sampai tahap apa aku meyakinkan diriku sendiri untuk mengungkapkan ini. Karena memang pada dasarnya aku orang yang sulit mengungkapkan sesuatu. Rasanya memang sangat sulit. Aku sendiri saja sudah hampir lupa merasakan hal seperti ini. Sepertinya memang kamu yang berpijar di saat gelap ku. Alasan apa sebenernya yang membuat mu menjadi satu-satunya yang bersinar bagi ku ? Aku jatuh cinta melebihi cahaya matahari yang jatuh ke bumi. Kamu menghangatkan. Juga akan terlalu mewah rasanya jika aku bisa tertawa tanpa adanya kamu. Akan terlalu menyedihkan jika kamu bisa tertawa dengan bukan aku alasannya. Aku juga sama dengan yang lainnya. Yang lainnya yang jatuh cinta, yang menginginkan menjadi satu-satunya alasan mu bahagia. Ada hasrat untuk saling melengkapi. Aku sudah jatuh cinta dengan segala sisi yang membuat ku jatuh cinta. Aku sudah melangkah terlalu jauh tidak tahu lagi bagaimana kembali ke nol. Tapi aku juga tidak ada niatan untuk kembali. Biarlah terus aku melangkah menc...

Ah mungkin bagi dirimu hanya teman sekelas saja~

Seperti dikasih suplemen pembangkit semangat setiap pagi, aku akan berikan senyum sapaan pagi  bersaing dengan mereka yang melirik mu, berbisik dan senyumnya mengikuti langkah mu berbelok ke pintu kelas. Aku cukup tersenyum, tidak lebih dari itu. Ah lega rasanya jika sudah seperti itu, entah apa alasannya semua hari-hari disekolah terkesan membalas senyum ku ini. Untuk kamu tidak perlu membalas ku, menoleh sekali saja sudah bersyukur. Ini aku, yang sering kamu sms kemudian tanya tugas, yang setiap rabu jumat kamu tanyai rumus dan cara, yang setiap akhir pelajaran kamu mintai buku catatan. Hai, penting kan peran ku ? Tapi ya sepertinya tidak begitu peduli juga kamu. Hanya teman sekelas saja yang bisa kamu ajak tertawa dan yang bisa kamu mintai bantuan tentunya. Seperti ini lebih baik, paling tidak aku punya alasan untuk didekat mu, komunikasi setiap malam, iya kan ? Ini jauh lebih menyenangkan, dibanding aku harus seperti awal lagi melirik mu ke belakang selalu memperhatikan mu d...

Jadi gimana ?

Gue jadi anak IPA, X IPA 1. Eh tapi di kurkul 2013 nyebutinnya mipa kan ya ? Ya pokoknya gue masuk situ deh, pas nyari-nyari kelas, langsung gue nemuin nama gue di kelas bekas lab ini. Nggak tau harus bangga atau gimana deh. Mungkin orang tua gue yang alhamdulillah, ya mereka itu pengen anaknya masuk IPA. Gue takut keteteran masuk mipa, iyasih kata temen gue, gue itu menonjol di bidang eskak. Tapi pas SMP ulangan fisika nilai juga pas pasan dih, gimana ipa di SMA ? Kurkul 2013 banyak tugas, guru sedikit nerangin, dan buku juga blm ada. Duh  Gue awalnya juga bingung mau kuliah ambil jurusan apa, karna jujur sih gue anak kecil yang masih bingung sama cita-citanya. Dulu SD gue pengen jadi guru, 2 tahun kemudian pengen jadi sekretaris kantoran, 2 tahun kemudian gue pengen jadi penulis, 2 tahun kemudian gue pengen jadi jurnalis. Itu gimana coba ? Tapi sekarang sepertinya gue pengen jadi guru, balik ke cita-cita awal gue. Semoga Alloh kasih jalan :) Gue kalau kuliah nanti insyall...

Adaptasi.

Berjalan kaki dari ujung gang aku dengan langkah asing. Ujung atas tiang gerbang semakin jelas, ini yang pertama ? Iya, yang pertama. Mungkin hanya untuk aku. Sepi, ya karena hanya siswa baru yang berangkat pagi ini, rapi dengan pakaian putih biru. Kakak osis pun sudah rapi dengan jaket almamater merahnya, meneriaki adek kelas baru yang datang terlambat. Sebelum ini aku sudah bertekad, emm.. bukan bertekad juga sih bahasanya. Yang jelas aku bakal bersikap -sok kenal biar banyak kenalan- "hai, boleh ya duduk disini ?'' kataku pada gadis berjilbab abu-abu ditengah lapangan. Jujur, tidak serasi dengan baju putih birunya. "boleh kok, sini. Nama ku Anggi, nama mu siapa ? " katanya sambil melihat ku. Kesan pertama, dia ramah ya ? "eh aku Tesa. Dari SMP mana, nggi ?" "SMP 3 Galunggung, kamu sendiri dari mana ?" "aku sih murid pindahan dari luar kota, dari SMP 2 Krian" Sekian tahap awal perkenalan, kita diam mendengarkan kakak kelas d...

Pada paragraf yang begitu singkat.

Pada paragragf yang begitu singkat. Kau sempat menulis bekas luka. Disana kau dan aku dahulu dengan tabah menyusun huruf demi huruf sambil belajar membuat narasi yang bahagia. Padahal akhir cerita tidak bersahabat dengan waktu dan sisa rindu disela kata terlalu lemah untuk patuh pada air mata. Tak ada jeda untuk kau tinggal disini. Biarkan aku membiarkan mu pergi. Pada paragraf yang begitu singkat ada ingatan yang berkarat. Disana aku dan kau terparangkap dalam kalimat pasif yang tak paham bagaimana cara menunggu. Sedangkan cinta mu telah di titik terdekat dan langkah ku telah lumpuh di tanda tanya terjauh. Tak ada celah untuk ku pergi dari sini. Biarkan aku membiarkan mu kembali.

5 menit di hari Sabtu.

*Kapan kita bertemu sayang ? apa kita seterusnya dekat sebatas ini ? kamu terlalu sibuk* ungkapnya suatu waktu. Sekian detik aku diam, memikirkan balasan pesan singkatnya dengan lembut. Melenceng sedikit saja itu pasti akan membuatnya kesal. Dalam hati aku membenarkan, sampai kapan kedekatan ku dengannya hanya sebatas lewat sms ? Aku juga menginginkan dia yang nyata bukan sekedar emoticonnya. *Sabtu besok bisa ? Kita ketemu ya sehabis pulang sekolah. Gimana ?:) * *Iya, di lab IPA ya ? * Khayalan kecil mulai tersusun di sekitar otak, menyusun cerita untuk Sabtu siang. Ini seperti dongeng indah pengantar tidur, pembawa mimpi indah. Hanya untuk hari Sabtu itu bel pulang sekolah seperti diperlambat, berbeda dari Sabtu biasanya. Benar-benar lama. 2 menit... 1 menit... 30 detik... Dan 30 detik kemudian nada klasik yang menjadi bel sekolah ku terdengar menggembirakan. Tidak sabar aku berlari ke arah kelas sahabat ku, memintanya menemani ku menemui dia yang aku rindu. Sesuai kesepakatan,...

Tahu Diri

Aku tahu, nama ku kini telah digantikan oleh kata yang lain. Meskipun hanya dengan sebuah tulisan, tetapi aku mengerti. Hal yang sampai saat ini masih sulit aku mengerti adalah apa yang mampu membuat mu menyebutnya dengan cinta . Kali ini aku berupaya untuk tahu diri, meredam nasib ku yang tak berubah. Rasa ini adalah wujud dari semua kesabaran ku. Sayang ini adalah wujud dari segala keteguhan ku. Aku masih belum bisa menerima sifat mu yang tidak bertanggung jawab ini. Bagaimana bisa kamu membuat ku senyaman ini kemudian ditinggalkan ? Aku disini dengan seribu tanya dan kamu disana tentang sebuah rahasia. Namun ketahuilah, suatu saat nanti jangan kamu tanyakan tentang hati ini lagi. Karena sedikit pun kamu tidak akan sanggup untuk mengerti. Sekali lagi, aku masih mempunyai rasa tahu diri bukan membenci, meskipun kamu yang ada tetapi tak berhak lagi untuk aku akui.