Perhatianku teralih dari nada monoton Prof Hasan pada pintu aula besar yang terbuka, memancarkan sedikit cahaya dunia luar pada ruang kuliah kami yang sedikit redup.
Atau mungkin bukan karena derit pintu atau seberkas cahaya itu yang membuat suara dosenku itu bukan lagi menjadi fokus utamaku. Tapi sosok tinggi ramping yang langkah kakinya baru memasuki aula besar, yang dengan cueknya langsung menaruh ranselnya di jajaran meja paling depan.
Gadis itu melirik sedikit ke arahku lalu mengeluarkan seulas senyum di bibir tipisnya. Sejenak kemudian, ia mengeluarkan diktat kuliahnya lalu bergabung dengan kami, terlarut dalam suara monoton Prof Hasan saat memberikan materi ilmu politik.
Dalila namanya.
Gadis bermata bulat, berhidung mancung, dan dengan figur tinggi ramping yang baru saja memasuki kelasku bernama Dalila, kalau kalian ingin tahu. Gadis yang sangat cantik sebenarnya, tapi laki-laki yang mendekatinya bisa dihitung dengan jari. Banyak yang mengatakan Dalila aneh, absurd, dan lain sebagainya.
Mereka hanya belum tahu saja berbagai keistimewaan Dalila.
Tapi aku tahu beberapa hal tentang gadis itu. Tapi aku enggan berbagi dengan siapapun. Jadi aku akan menyebutnya sebagai rahasia. Rahasia milikku. Rahasia tentang Dalila milik Alaric.
Dalila yatim piatu. Hidupnya yang minim kasih sayang membuatnya tidak tahu bagaimana memperlakukan orang dengan baik. Ia kasar, dingin, dan apatis. Ia tidak ingin susah-susah membuat orang lain senang karena hidupnya asing dengan kata kebahagiaan, kegembiraan, dan suka cita.
Lucunya, ia penyayang binatang. Diam-diam ia merawat beberapa ekor kelinci di halaman belakang kampus bersama Pak Asta si penjaga kampus.
Kalau Dalila merasa jenuh, ia punya spot rahasia, sebuah bukit kecil di area belakang kampus. Di sana biasanya ia merenung atau bermain dengan kelinci-kelinci kecilnya sampai kepalanya terasa ringan dan pulang ke panti asuhan tempatnya tinggal.
Ia menyukai The Beatles. Mungkin bisa disebut maniak. Playlist ponselnya diisi penuh lagu-lagu Beatles dari album Please, Please Me hingga Let It Be. Dalila juga punya dendam setinggi langit pada Mark David Chapman, yang membunuh idolanya sepanjang masa, John Lennon.
Tidak banyak yang tahu Dalila punya sisi hangat yang tersembunyi, tertutupi eksteriornya yang sedingin es. Dia menyukai cahaya yang bergerak, atau lampu yang berkerlip memanjakan matanya. Jangan heran kalau ia suka duduk bersila di atas bukit hingga malam tiba dan bintang bermunculan. Atau rela menghentikan langkahnya saat mobil besar pengangkut bahan bakar dengan lampu kecilnya yang berkelap-kelip melewati jalan. Ia selalu bilang di tengah hidupnya yang statis, cahaya-cahaya itu bergerak semarak. Membuat rasa kesepiannya tereduksi. Ia merasa lebih tenang dan bahagia dalam versinya sendiri.
Bel berbunyi. Mengakhiri ceritaku tentang Dalila. Ia bukan gadis yang jahat, ia sangat baik, ia hanya kesepian. Seseorang yang dengan sabar dan hati-hati mengurai perangainya dapat membuka kehangatannya, mengulas senyum di bibir tipisnya, dan pada akhirnya dapat membuka hatinya, membuatnya mau menyayangi orang lain dan kebahagiaan kini tidak asing lagi untuknya.
Teman-teman sekelasku mulai membereskan barang-barang mereka dan beranjak meninggalkan kelas. Tinggal Dalila yang tertinggal. Ekspresi wajahnya merekah gembira ketika aku berjalan mendekatinya.
"Hari ini nggak ada acara nungguin bintang di bukit ya? Banyak tugas."
Dalila tersenyum sambil mengangguk.
"Lagian hari ini aku mau cari vinyl White Album. Kamu harus temenin aku sampe dapet."
Aku mengacak rambutnya sayang lalu mengecup keningnya sekilas. Lalu kami bergandengan menuju taman kampus. Mendapati tatapan iri hati dan penuh sesal dari beberapa laki-laki, terutama untukku.
Kuberitahu rahasia milik Alaric yang terakhir.
Dalila adalah kekasihku.
Komentar
Posting Komentar