Perhatianku teralih dari nada monoton Prof Hasan pada pintu aula besar yang terbuka, memancarkan sedikit cahaya dunia luar pada ruang kuliah kami yang sedikit redup. Atau mungkin bukan karena derit pintu atau seberkas cahaya itu yang membuat suara dosenku itu bukan lagi menjadi fokus utamaku. Tapi sosok tinggi ramping yang langkah kakinya baru memasuki aula besar, yang dengan cueknya langsung menaruh ranselnya di jajaran meja paling depan. Gadis itu melirik sedikit ke arahku lalu mengeluarkan seulas senyum di bibir tipisnya. Sejenak kemudian, ia mengeluarkan diktat kuliahnya lalu bergabung dengan kami, terlarut dalam suara monoton Prof Hasan saat memberikan materi ilmu politik. Dalila namanya. Gadis bermata bulat, berhidung mancung, dan dengan figur tinggi ramping yang baru saja memasuki kelasku bernama Dalila, kalau kalian ingin tahu. Gadis yang sangat cantik sebenarnya, tapi laki-laki yang mendekatinya bisa dihitung dengan jari. Banyak yang mengatakan Dalila aneh, ab...