Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2014

Rahasia Alaric

Perhatianku teralih dari nada monoton Prof Hasan pada pintu aula besar yang terbuka, memancarkan sedikit cahaya dunia luar pada ruang kuliah kami yang sedikit redup. Atau mungkin bukan karena derit pintu atau seberkas cahaya itu yang membuat suara dosenku itu bukan lagi menjadi fokus utamaku. Tapi sosok tinggi ramping yang langkah kakinya baru memasuki aula besar, yang dengan cueknya langsung menaruh ranselnya di jajaran meja paling depan. Gadis itu melirik sedikit ke arahku lalu mengeluarkan seulas senyum di bibir tipisnya. Sejenak kemudian, ia mengeluarkan diktat kuliahnya lalu bergabung dengan kami, terlarut dalam suara monoton Prof Hasan saat memberikan materi ilmu politik. Dalila namanya. Gadis bermata bulat, berhidung mancung, dan dengan figur tinggi ramping yang baru saja memasuki kelasku bernama Dalila, kalau kalian ingin tahu. Gadis yang sangat cantik sebenarnya, tapi laki-laki yang mendekatinya bisa dihitung dengan jari. Banyak yang mengatakan Dalila aneh, ab...

Sandiwara

“Pernah kah suatu hari, saat hati mu terus-terusan berkata tidak , menyangkal semua kenyataan. Namun diwaktu yang sama, di depan mereka justru kamu melawan hati  mu. Terus-terusan untuk berkata iya .Pernah ?” Awal musim panas lalu, kamu  memperkenalkan senyum hangat mu yang setiap pagi kamu sandingkan dengan sapaan pagi di depan kelas, menyambut ku. Sederhana memang. Namun, aku terkesan dengan semua tingkah-tingkah kecil mu itu, seberapa pun tidak masuk akalnya aku menyukainya. Sampai pada musim semi, aku masih dapat melihat kamu menggerakkan bibir mu saat berpapasan. Menyunggingkan senyum. Senyum siapa ? Bukan. Itu  bukan senyum yang aku lihat awal musim panas tahun lalu. Bukan senyum sapaan, bukan senyum hangat, terlebih senyum orang yang mendapat balasan senyum dari terkasihnya. Jelas bukan. Tuan, aku ingin bertanya. Kenapa bisa kamu bisa mempunyai senyum yang berbeda ? Apa pantas jika aku menyebutnya senyum palsu ?Atau begini, lebih spesifik lagi. -Senyum...

Sudut Coffee shop

Laptop, earphone, secangkir kopi dan duduk di sudut coffee shop dekat jendela, menjadi teman favorite disetiap sore saat weekend. Jika beberapa orang membutuhkan orang lain untuk menjadi moodboster aku hanya memerlukan suasana seperti ini untuk membuat mood ku membaik. Itu adalah salah satu kebiasaan ku yang kamu ketahui setelah 3 tahun kita berbagi cerita. Minggu sore ini, aku duduk sendiri dengan secangkir kopi panas kesukaan mu. Menengok ke kanan, dari jendela hujan sore sejak tadi membasahi. Dingin, memang. Seperti sikap mu kemarin saat kita bertengkar di tempat aku duduk saat ini. Kopi hitam kesukaan  yang sebulan lalu ada di depan mu, sekarang ada di depan ku. Aku memesannya hanya untuk mencicipi rasanya. Pahit. Itu kata pertama yang keluar dari mulut ku. Aku juga heran kenapa kamu begitu menyukai kopi hitam ini ? Setahu ku kamu selalu berbagi hal yang manis dengan ku saat kamu menyeruput kopi hitam itu. Dan saat ini, saat aku menyeruput kopi hitam kesuk...

Awal Mei

Tugas kelompok dari guru biologi awal Mei ini, mungkin adalah awal aku mengenal seperti apa gaya bercanda mu. Dan menjadi waktu kesekian kalinya aku melihat senyum dengan gigi rapih putih mu. Pesan singkat untuk janjian membahas tugas cukup membuat ku senyum-senyum geli, walaupun sepertinya kamu juga mengirimkan pesan semacam itu ke yang lainnya. Tapi, kamu berbeda. Ini hanya semacam perasaan suka, tidak lebih. Tidak, aku memang tidak mengharap lebih. Karen aku tahu, sikap lebih yang kamu tunjukan tidak untuk aku. Perempuan berambut sebahu yang duduk di depan mu di sudut cafĂ© dekat sekolah hari Minggu kemarin, dia yang mungkin cukup puas melihat senyum mu. Yang dibuat tertawa oleh mu, disela-sela seruputan es Cappuccino kesukaan mu. Entah perempuan itu memang menyukai es Cappuccino atau hanya menyamai kesukaan mu. “Ada rasa sakit ketika melihat mu bahagia, itu karena bukan aku yang membahagiakan mu”- Zarry Hendrik Kata-kata Zarry Hendrik itu awalnya aku pikir cocok untuk ku ya...