Langsung ke konten utama

Gravitasi

Dimas. Dia adalah salah satu nikmat Tuhan yang tidak mampu aku tiadakan. Meskipun kadang dia tiada. Entah kembali untuk waktu seberapa lama. Seberapa lama pun dia, seberapa jauh, dan seperti apa yang menjauhkan. Ada beberapa hal yang membuat ku percaya bahwa dia tetap kembali untuk ku.

Tidak perlu mengatakan “Jangan lupakan aku” karena hanya akulah yang dia cari saat dia ingin berbagi, berbagi apapun itu. Aku dengan tenang memandangnya saat dia mulai berbagi hal yang menurutnya menarik, kemudian aku akan tersenyum saat dia berhenti sejenak untuk menyeruput Caffe Latte yang menjadi kesukaanya dan saat dia sadar bahwa aku terus-terusan memandanginya dia akan menyodorkan Cotton Candy Farppuccino pesanan ku. Bukan karena skenario seperti itu, karena memang sudah terbiasa.

Kadang dia bercerita dengan semangat mekantar-kantar, kadang dia hanya diam tapi menuntutku harus mengerti apa ceritanya, kadang dia menatap manis dengan tangan kanan menggenggam cangkir putih, kadang dia lebih dari 10 kali menyeruput Cappuccino pesanan ku padahal dia izin hanya mencicipi, kadang dia… Ah sudahlah. Terlalu banyak arah jika aku menceritakan tentangnya.

“Apel ?” tanya nya saat dia memintaku mengajarinya materi  Fisika bab baru
“Iya, Newton kan nggak langsung nemuin hukum gaya gravitasi. Nah, apel yang dia temui jatuh dari pohon itu yang menjadi pancingannya untuk mempelajari sampai dia menemukan gaya gravitasi” jelas ku
“Oh gitu, terus ?”
“Baca halaman 54 deh”
“Gaya gravitasi bumi adalah gaya tarik-menarik yang terjadi pada semua partikel yang mempunyai massa.”
“Nah jadi gaya gravitasi itu menarik benda dan menyebabkan tetap berada di bumi. Coba bayangin kalau nggak ada gaya gravitasi ? Kita nggak bakalan bisa diam bahkan nggak bisa duduk deketan gini”
“Hm gitu ya ?”
“Gini nih. Aku adalah bumi, kamu adalah partikel. Dan diantara kita ada yang namanya gaya gravitasi sehingga kita bisa setiap hari sedekat ini. Gaya gravitasi ini di pengaruhi oleh jarak dan massa. Jarak kita sebut tetap jarak yang tentnya berlaku memisahkan kita. Massa ? Emm.. Sebut saja cinta”
“Aku. Kamu. Gravitasi. Jarak. Dan Cinta ?”
“Iya. Aku akan menggunakan gaya gravitasi agar kamu tetap disini, disisi ku. Tidak pergi ke berbagai arah. Namun, jika suatu saat kamu pergi, jarak berperan. Dia menjauhkan dengan segala macam dayanya dan beberapa faktor yang membuat mu terus menjauh meski aku telah menguatkan gravitasi ku untuk mu. Sampai dimana suatu waktu aku lelah dan menyerah, garvitasi ku melemah dan tak mampu lagi menarik mu ke sisi ku. Cinta ? semakin besar cinta yang kamu miliki untuk memberi alasan yang kuat kamu berada di sisi ku. Gravitasi ku semakin kuat karena kamu sendiri juga memiliki alasan untuk di dekat ku, cinta. Berbeda jika cinta mu tak  sebesar harap ku. Gaya gravitasi ku akan melemah dan kelelahan menarik mu bertahan disisi ku. Untuk kemudian aku melepas mu pergi bebas” jelasku panjang lebar
“Ribet. Aku nggak butuh gravitasi. Buat apa ? Alasan ku ada dan tetap disini, kamu. Tidak perlu membuang tenaga menarik ku seperti itu, percaya saja aku pergi untuk kembali” katanya sambil mengusap kepala ku

Aku tersenyum tipis mendengar jawabannya yang lebih terkesan gombalan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senja tahu caranya pamit

Lalu apa yang bisa dinikmati dari senja ? Disana hanya ada seseorang yang giat menunggu dan sibuk mengubur rindu. Mungkin melihat senja baginya menyenangkan dan tertawa di dalam ingatan. Miris sekali bukan ? Baginya senja lebih baik, tahu caranya berpamitan. Tidak lenyap hilang setelah pertemuan.

Surat Cinta Pertama

“Disini saya sebagai perwakilan murid baru mengucapkan terimakasih kepada kakak kelas dan bapak ibu guru yang telah membimbing kami selama masa orientasi dan juga kami berharap bapak ibu guru masih mau membimbing kami selama kami sekolah disini…..” Badannya yang tegap dan ucapannya yang mantap membuat semua orang dalam aula terkesima dengan pidatonya. Adalah Rama, siswa dengan nilai tertinggi saat pendaftaran di sekolah ini. Pantaslah dia dipilih menjadi perwakilan siswa baru. Dia mampu menyampaikan pidato rumitnya dengan lancar.  Dan sejak itulah aku mulai mengaguminya, sejak dia mengucapkan salam dan mengedarkan senyum ke seluruh penjuru aula.Tanpa alasan apapun, rasa ku dia tersenyum hanya untuk ku. Terhitung sudah hampir 3 tahun aku mengaguminya dengan segala daya tarik yang dia miliki. Aku belajar menyukai apa yang menjadi kecintaannya, mencari jarak sedekat mungkin hanya untuk melihatnya, menghabiskan waktu istirahat untuk memperhatikannya berkutat dengan buku...

Awal Mei

Tugas kelompok dari guru biologi awal Mei ini, mungkin adalah awal aku mengenal seperti apa gaya bercanda mu. Dan menjadi waktu kesekian kalinya aku melihat senyum dengan gigi rapih putih mu. Pesan singkat untuk janjian membahas tugas cukup membuat ku senyum-senyum geli, walaupun sepertinya kamu juga mengirimkan pesan semacam itu ke yang lainnya. Tapi, kamu berbeda. Ini hanya semacam perasaan suka, tidak lebih. Tidak, aku memang tidak mengharap lebih. Karen aku tahu, sikap lebih yang kamu tunjukan tidak untuk aku. Perempuan berambut sebahu yang duduk di depan mu di sudut cafĂ© dekat sekolah hari Minggu kemarin, dia yang mungkin cukup puas melihat senyum mu. Yang dibuat tertawa oleh mu, disela-sela seruputan es Cappuccino kesukaan mu. Entah perempuan itu memang menyukai es Cappuccino atau hanya menyamai kesukaan mu. “Ada rasa sakit ketika melihat mu bahagia, itu karena bukan aku yang membahagiakan mu”- Zarry Hendrik Kata-kata Zarry Hendrik itu awalnya aku pikir cocok untuk ku ya...