Langsung ke konten utama

Postingan

Jangan Terserah

Kalau kamu mengajakku makan malam lagi, Kali ini aku yang menentukan tempatnya.
Postingan terbaru

Pergi

Tidak ada yang mempersilakan ku masuk. Tidak juga kau yang membukakan pintu, meski berkali-kali terdengar ketukan. Hanya saja bodoh ku yang selalu punya ruang ketika kau tidak mempunyai jalan pulang. Beberapa pertemuan membuat khayal ku semakin luas. Aku terlena dengan perasaan ku sendiri, hingga tak sadar sayatan mu justru semakin dalam. Kini setelah ditampar kenyataan berkali-kali, aku sadar. Ini adalah waktu untuk aku berhenti, meski perasaan ku belum menemui tepi.

Senja tahu caranya pamit

Lalu apa yang bisa dinikmati dari senja ? Disana hanya ada seseorang yang giat menunggu dan sibuk mengubur rindu. Mungkin melihat senja baginya menyenangkan dan tertawa di dalam ingatan. Miris sekali bukan ? Baginya senja lebih baik, tahu caranya berpamitan. Tidak lenyap hilang setelah pertemuan.

Kompromi

Pada banyak hal kamu tidak harus ikut serta di dalamnya.  Kamu hanya perlu menurunkan ego mu sedikit, mengesampingkan pemahaman mu yang kuat sebentar. Tak perlu dihilangkan, hanya ditinggal sebentar. Kompromilah dengan kawan. Mulailah dengan mendengarkan, lalu cobalah mengikuti arus pembicaraan. Meski banyak hal tak sesuai dengan pemikiran, namun dari perbedaan yang kadang memantik mu untuk memulai perdebatan itu ada baiknya untuk mu belajar berkawan. Toh apa yang mereka bicarakan bisa kamu jadikan pembelajaran. Kamu akan tahu banyak hal hanya dengan menahan diri untuk mendengarkan atau bahkan bertukar pikiran tentunya, karena mungkin akan kamu temui pernyataan yang tak sesuai pemikiran. Tak apa, teruskan saja. "Punya banyak teman bukan tolok ukur kebaikan seseorang, hanya bukti ada orang yang bisa berkompromi dalam banyak hal."  -adimasnuel

Cukup Disana

Cukup di sana. Aku tidak perlu menjadi siapa-siapa. Aku tidak harus sengaja bertingkah konyol atau menceritakan hal konyol agar kamu tertawa. Cukup di sana. Kita akan membalas cerita dan melempar tawa. "Jangan diam saja", kata mu. Ya, aku tidak perlu menjadi siapa-siapa.

Surat Cinta Pertama

“Disini saya sebagai perwakilan murid baru mengucapkan terimakasih kepada kakak kelas dan bapak ibu guru yang telah membimbing kami selama masa orientasi dan juga kami berharap bapak ibu guru masih mau membimbing kami selama kami sekolah disini…..” Badannya yang tegap dan ucapannya yang mantap membuat semua orang dalam aula terkesima dengan pidatonya. Adalah Rama, siswa dengan nilai tertinggi saat pendaftaran di sekolah ini. Pantaslah dia dipilih menjadi perwakilan siswa baru. Dia mampu menyampaikan pidato rumitnya dengan lancar.  Dan sejak itulah aku mulai mengaguminya, sejak dia mengucapkan salam dan mengedarkan senyum ke seluruh penjuru aula.Tanpa alasan apapun, rasa ku dia tersenyum hanya untuk ku. Terhitung sudah hampir 3 tahun aku mengaguminya dengan segala daya tarik yang dia miliki. Aku belajar menyukai apa yang menjadi kecintaannya, mencari jarak sedekat mungkin hanya untuk melihatnya, menghabiskan waktu istirahat untuk memperhatikannya berkutat dengan buku...