Langsung ke konten utama

Sudut Coffee shop


Laptop, earphone, secangkir kopi dan duduk di sudut coffee shop dekat jendela, menjadi teman favorite disetiap sore saat weekend. Jika beberapa orang membutuhkan orang lain untuk menjadi moodboster aku hanya memerlukan suasana seperti ini untuk membuat mood ku membaik. Itu adalah salah satu kebiasaan ku yang kamu ketahui setelah 3 tahun kita berbagi cerita.

Minggu sore ini, aku duduk sendiri dengan secangkir kopi panas kesukaan mu. Menengok ke kanan, dari jendela hujan sore sejak tadi membasahi. Dingin, memang. Seperti sikap mu kemarin saat kita bertengkar di tempat aku duduk saat ini. Kopi hitam kesukaan  yang sebulan lalu ada di depan mu, sekarang ada di depan ku. Aku memesannya hanya untuk mencicipi rasanya. Pahit. Itu kata pertama yang keluar dari mulut ku. Aku juga heran kenapa kamu begitu menyukai kopi hitam ini ? Setahu ku kamu selalu berbagi hal yang manis dengan ku saat kamu menyeruput kopi hitam itu.

Dan saat ini, saat aku menyeruput kopi hitam kesukan mu aku tidak bisa berbagi hal manis seperti apa yang kamu lakukan. Pertengkaran sebulan lalu, membuat kita masing-masing menjauh. Untuk hal yang tidak diketahui banyak orang, aku merindukan hal manis dengan secangkir kopi di sore hari, hanya ada kita di sudut coffeeshop.

                                                                         

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senja tahu caranya pamit

Lalu apa yang bisa dinikmati dari senja ? Disana hanya ada seseorang yang giat menunggu dan sibuk mengubur rindu. Mungkin melihat senja baginya menyenangkan dan tertawa di dalam ingatan. Miris sekali bukan ? Baginya senja lebih baik, tahu caranya berpamitan. Tidak lenyap hilang setelah pertemuan.

Surat Cinta Pertama

“Disini saya sebagai perwakilan murid baru mengucapkan terimakasih kepada kakak kelas dan bapak ibu guru yang telah membimbing kami selama masa orientasi dan juga kami berharap bapak ibu guru masih mau membimbing kami selama kami sekolah disini…..” Badannya yang tegap dan ucapannya yang mantap membuat semua orang dalam aula terkesima dengan pidatonya. Adalah Rama, siswa dengan nilai tertinggi saat pendaftaran di sekolah ini. Pantaslah dia dipilih menjadi perwakilan siswa baru. Dia mampu menyampaikan pidato rumitnya dengan lancar.  Dan sejak itulah aku mulai mengaguminya, sejak dia mengucapkan salam dan mengedarkan senyum ke seluruh penjuru aula.Tanpa alasan apapun, rasa ku dia tersenyum hanya untuk ku. Terhitung sudah hampir 3 tahun aku mengaguminya dengan segala daya tarik yang dia miliki. Aku belajar menyukai apa yang menjadi kecintaannya, mencari jarak sedekat mungkin hanya untuk melihatnya, menghabiskan waktu istirahat untuk memperhatikannya berkutat dengan buku...

Awal Mei

Tugas kelompok dari guru biologi awal Mei ini, mungkin adalah awal aku mengenal seperti apa gaya bercanda mu. Dan menjadi waktu kesekian kalinya aku melihat senyum dengan gigi rapih putih mu. Pesan singkat untuk janjian membahas tugas cukup membuat ku senyum-senyum geli, walaupun sepertinya kamu juga mengirimkan pesan semacam itu ke yang lainnya. Tapi, kamu berbeda. Ini hanya semacam perasaan suka, tidak lebih. Tidak, aku memang tidak mengharap lebih. Karen aku tahu, sikap lebih yang kamu tunjukan tidak untuk aku. Perempuan berambut sebahu yang duduk di depan mu di sudut cafĂ© dekat sekolah hari Minggu kemarin, dia yang mungkin cukup puas melihat senyum mu. Yang dibuat tertawa oleh mu, disela-sela seruputan es Cappuccino kesukaan mu. Entah perempuan itu memang menyukai es Cappuccino atau hanya menyamai kesukaan mu. “Ada rasa sakit ketika melihat mu bahagia, itu karena bukan aku yang membahagiakan mu”- Zarry Hendrik Kata-kata Zarry Hendrik itu awalnya aku pikir cocok untuk ku ya...