Dia adalah penggemar Metallica, aku adalah penggemar Jason
Mraz. Tapi pada saat Metallica ke sini, aku pun menonton konser itu. Dan pada
saat Jason Mraz ke sini, dia menemaniku menontonnya.
Dia suka makanan pedas, aku tidak. Akhirnya aku memasak
tidak terlalu pedas untuk kami berdua. Pelan-pelan, aku bisa makan yang cukup
pedas, dan dia pun mulai bisa mengurangi makanan yang dulu lihat sambal atau
cabenya saja bisa membuatku kepedasan tanpa harus merasakannya.
Dia tidak suka aku berpakaian seksi, dan aku tidak suka dia
ke mana-mana berpakaian ala kadarnya. Untuk dihormati, kita harus terlebih
dahulu menghargai diri sendiri. Lalu karena menghargainya, dan karena memang
ada benarnya, aku mengurangi berpakaian seksi. Dia menganggapku berharga, jadi
apa pun yang berharga seharusnya tidak diumbar ke mana-mana. Dan dia juga mulai
merapikan diri ketika pergi ke mana-mana. Tidak harus berkemeja, kaos pun tidak
apa-apa selama dia tetap rapi. Kami tidak berusaha menjadi orang lain, tetapi
kami mau berubah untuk pasangan masing-masing. Kami menjadi diri kami yang
lebih baik dari sebelumnya.
Dia suka membaca. Ke mana-mana dia akan
membawa buku. Apalagi buku "How to Win Friends and Influence People"
karya Dale Carnegie. Itu seperti salah satu kitab wajibnya yang akan selalu
dibawanya ke mana-mana. Dibacanya berulang sampai kucel. Kalaupun bendingannya
lepas, dia akan pergi ke tukang fotokopi untuk diperbaiki. Ini cukup
menggelikanku pada awalnya. Orangnya cadas, penggemar Metallica, kalau main
drum atau bass suka lupa segalanya, tetapi begitu membaca buku, dia bisa
tenggelam di sana berlama-lama. Dan karena dia suka baca, aku sering membelikan
dia buku untuk dibaca, menemaninya ke toko buku, atau memberikannya waktu untuk
menemui penulis favoritnya yang sedang mengadakan bedah buku di kota.
Kalau aku, aku suka nonton. Apa saja kecuali horor. Bukan
apa-apa, aku hanya tidak suka tiba-tiba dikagetkan dengan suara-suara yang
sepertinya sebenarnya tidak ada hubungannya dengan isi cerita. Dia pun
untungnya juga suka nonton. Jadi, kami sering nonton berdua. Kami pernah
menonton film Monster Inc, Despicable Me, atauCars. Kadang juga
nonton film cinta-cintaan seperti 50 First Date, Hitch, atau The
Vow.
Dia, dengan tubuh machonya, dengan kemeja (kalau nonton,
entah kenapa dia lebih sering pakai kemeja) dan sepatu yang juga lelaki banget,
nonton kartun atau drama di bioskop. Lalu selalu cekikan kalau melihat ekspresi
mbaknya ketika dia beli tiket untuk film-film tersebut.
Tetapi dia tidak pernah memaksuku menonton film horor
sebagaimana aku tidak pernah memaksanya menonton film 'sadisvie' (bahasanya
untuk film penuh darah; dari kata 'sadis' dan 'movie'). Jadi, dia, dengan
segala kelelakiannya, tidak akan sanggup nonton film Saw atau film
apa pun yang ada adegan penyiksaan yang vulgar. Aku selalu menertawakannya.
Untuk film-film itu (horor dan sadisvie), kami akan menonton sendiri-sendiri
atau bersama teman kami. Saling mengerti tidak harus berusaha menyenangi semua
yang disenangi orang yang dicintai. Kami masih bisa saling mencintai tanpa aku
harus menjadi suka horor seperti dia, atau dia menjadi suka film sadis seperti
aku.
Dia penggemar berat game strategi. Seolah-olah dia komandan
lalu mempunyai pasukan untuk membangun dan mempertahankan wilayahnya. Kalau
kalah, dia akan menggerutu, tapi dia lebih sering pada akhirnya menang. Meski
tidak jarang pula menyerah duluan (aku sering tertawa dalam hati kalau dia
menyerah duluan, karena dia sering sesumbar semua game dibuat untuk bisa
diselesaikan). Bagusnya, dia tidak pernah menggunakan cheat. "Kalah
ya kalah, kalau cheat itu gak ada senang-senangnya ketika
menang!" katanya.
Kalau dia sudah main game seperti itu, aku akan menemani dia
sambil membaca majalah wanita (dia berlangganan untukku), atau aku ikut main
game, hanya saja dari androidku. Kami berbeda, tidak harus sama. Tetapi masih
bisa saling menemani bahkan untuk hal yang berbeda.
Dia selalu tidur lebih cepat dari aku, sementara aku justru
terbiasa begadang. Kadang-kadang, aku akan tidur lebih cepat dari biasanya atau
dia yang ikut begadang menemaniku. Dia akan membuat kopi, lalu bekerja meski
pekerjaannya tidak mengharuskannya lembur. Lalu dia akan berkata, "Gak
apa, biar besok aku nyantai di kantor. Lagian aku juga gak bisa tidur."
Kalau ngopi mana bisa tidur? Aku tahu kalau dia hanya
ingin menemaniku. Dia hanya tidak tahu kalau aku tahu.
Kami pernah bertengkar. Dari kami bersama, dia sudah
mengatakan bahwa tidak bisa menjamin kalau hidup kami akan dipenuhi bahagia dan
tawa saja. Ada kalanya dia akan marah, atau aku yang akan marah.
Dia pendiam, aku tukang ngomel. Dia yang sabar, aku yang
cepat marah. Dia yang tertawa, aku yang menceritakan lelucon untuknya. Dia yang
akan memelukku, aku yang akan bermanja-manja.
Tetapi pada saat dia marah, aku akan berusaha diam. Sulit,
tetapi kalau saling ngotot, itu selalu memperburuk keadaan. Aku tahu, dia kalau
marah, berarti aku memang berbuat salah atau dia yang sedang lelah. Jadi, aku
akan tetap membuatkannya teh, menyiapkan makan, membereskan baju-bajunya. Besok
pagi, biasanya dia akan meminta maaf karena sudah marah. Lalu kami akan
berbicara seperti biasa lagi. Kalau aku yang marah, dia akan berusaha diam.
Karena dia juga tahu, kalau ikut ngotot, akan bertambah panjang.
Bukan berarti kami tidak pernah bertengkar hebat. Tentu saja
pernah. Berdebat siapa salah siapa benar. Tetapi, kenapa harus selalu
dibuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah, kalau pada akhirnya itu akan
melukai salah satunya? Kenapa tidak yang salah menyadari kalau dia salah dan
yang benar tidak terlalu menyalahkan?
Dari sana kami belajar, semua masalah harus diusahakan
sebelum tidur. Jadi tidak ada yang memendamnya. Tidak selalu berhasil. Tetapi
kami berjanji untuk terus mengusahakannya.
Jelas, kami berbeda pada banyak hal. Tetapi tidak harus
salah satu mengikuti yang lainnya. Kami hanya harus berkompromi. Karena
alasannya sesederhana kami saling mencintai. Jika cinta kami sama, kenapa harus
meributkan semua yang beda?
-namarappuccino-
Komentar
Posting Komentar