Langsung ke konten utama

Surat Cinta Pertama

“Disini saya sebagai perwakilan murid baru mengucapkan terimakasih kepada kakak kelas dan bapak ibu guru yang telah membimbing kami selama masa orientasi dan juga kami berharap bapak ibu guru masih mau membimbing kami selama kami sekolah disini…..”

Badannya yang tegap dan ucapannya yang mantap membuat semua orang dalam aula terkesima dengan pidatonya. Adalah Rama, siswa dengan nilai tertinggi saat pendaftaran di sekolah ini. Pantaslah dia dipilih menjadi perwakilan siswa baru. Dia mampu menyampaikan pidato rumitnya dengan lancar.  Dan sejak itulah aku mulai mengaguminya, sejak dia mengucapkan salam dan mengedarkan senyum ke seluruh penjuru aula.Tanpa alasan apapun, rasa ku dia tersenyum hanya untuk ku.
Terhitung sudah hampir 3 tahun aku mengaguminya dengan segala daya tarik yang dia miliki. Aku belajar menyukai apa yang menjadi kecintaannya, mencari jarak sedekat mungkin hanya untuk melihatnya, menghabiskan waktu istirahat untuk memperhatikannya berkutat dengan buku kimia, mencari tahu hal yang menurutnya menarik agar jika suatu saat ada kesempatan mengobrol dengannya, aku tidak kekurangan bahan obrolan. Tentunya, agar aku lebih lama didekatnya. Nyatanya, selama ini aku belum punya kesempatan itu. Saling menyapa saja tak pernah.  Seminggu lagi acara perpisahan kelas 12. Dan untuk kedua kalinya aku akan melihatnya berdiri di panggung membacakan pidato. Iya, dia kembali menjadi perwakilan murid.
                                                                            ****
“Tak terasa sebentar lagi kita berpisah. Kita semua telah menorehkan kenangan di setiap sudut sekolah…” Ucap Rama dalam pidatonya. Dia masih mengesankan seperti dulu.
“Kamu yakin bakalan kasih surat itu ?” Kata Mia yang duduk disebelah ku.
“Aku nggak mau kehidupan SMA ku berakhir tanpa dia tahu perasaan ku” Jawab ku mantap.
“Nadia, menunggu seharusnya juga punya batas waktu…” Kata Mia yang tatapanya melihat ku dengan melas.
Sesuatu yang berlebihan itu memang tidak baik dan menunggu seharusnya tidak boleh berlebihan. Menunggu seharusnya juga mempunyai batas waktu. Tapi entah mengapa, entah seberapa kuat daya tarik Rama hingga aku masih bertahan sampai saat ini. Aku dan dia memang sangat berbeda. Dia yang popular di sekolah, yang tampan, yang pintar. Sedangkan aku ? Standar, biasa saja. Aku tidak popular, yang mengenal ku hanya sebatas teman dekat paling banyak teman sekelas. Guru-guru memanggil ku hanya kalau sedang mengabsen murid. Jauh bukan ? Kertas beramplop biru sudah aku pegang erat sejak pagi. Aku menulisnya dengan susah payah, meski hanya menulis apa yang aku rasa selama 3 tahun kepadanya, tidak sepuitis rangkaian kata Zarry Hendrik dan tidak terlalu manis jika dirasa. Karena memang aku tak sepandai Dewi ‘Dee’ dalam bermain kata
Itu dia ! Badannya menjulang diantara kerumunan orang. Aku harus memberikannya, batin ku. Langkah ku menghampiri. Jantung berdetak seribu kali lebih menegangkan. Surat yang aku genggam bahkan kini seperti sudah aku remas untuk menahan rasa tegang ku. Semakin dekat. Semakin mendebarkan. Dan, dia menyadari keberadaan ku ! Matanya menatap ku. Mata kita bertemu. Deg..

“Ada apa ?” Katanya setelah aku berhenti di depannya.
“Ini untuk mu. Mungkin kamu bingung kenapa mendapat amplop biru. Tapi ini untuk mu.” Kata ku sambil mengulurkan amplop yang aku pegang. Fiuh, akhirnya hafalan ku tidak sia-sia. Lancar.
“Aku tidak mau”
“Hah ?” Suaranya menggema di telinga meski dengan nada datar dan singkat.

Surat cinta pertama ku dia tolak tanpa dia baca !

Benar-benar orang yang tidak bisa menghargai orang lain. Setidaknya basa-basi dulu atau membuat alasan apa gitu, jangan langsung membuat halilintar di kepala ku. Menunggu memang seharusnya mempunyai batas waktu dan kini sepertinya aku sudah di ujung batas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senja tahu caranya pamit

Lalu apa yang bisa dinikmati dari senja ? Disana hanya ada seseorang yang giat menunggu dan sibuk mengubur rindu. Mungkin melihat senja baginya menyenangkan dan tertawa di dalam ingatan. Miris sekali bukan ? Baginya senja lebih baik, tahu caranya berpamitan. Tidak lenyap hilang setelah pertemuan.

Awal Mei

Tugas kelompok dari guru biologi awal Mei ini, mungkin adalah awal aku mengenal seperti apa gaya bercanda mu. Dan menjadi waktu kesekian kalinya aku melihat senyum dengan gigi rapih putih mu. Pesan singkat untuk janjian membahas tugas cukup membuat ku senyum-senyum geli, walaupun sepertinya kamu juga mengirimkan pesan semacam itu ke yang lainnya. Tapi, kamu berbeda. Ini hanya semacam perasaan suka, tidak lebih. Tidak, aku memang tidak mengharap lebih. Karen aku tahu, sikap lebih yang kamu tunjukan tidak untuk aku. Perempuan berambut sebahu yang duduk di depan mu di sudut café dekat sekolah hari Minggu kemarin, dia yang mungkin cukup puas melihat senyum mu. Yang dibuat tertawa oleh mu, disela-sela seruputan es Cappuccino kesukaan mu. Entah perempuan itu memang menyukai es Cappuccino atau hanya menyamai kesukaan mu. “Ada rasa sakit ketika melihat mu bahagia, itu karena bukan aku yang membahagiakan mu”- Zarry Hendrik Kata-kata Zarry Hendrik itu awalnya aku pikir cocok untuk ku ya...