Langsung ke konten utama

Sandiwara

“Pernah kah suatu hari, saat hati mu terus-terusan berkata tidak, menyangkal semua kenyataan. Namun diwaktu yang sama, di depan mereka justru kamu melawan hati  mu. Terus-terusan untuk berkata iya.Pernah ?”

Awal musim panas lalu, kamu  memperkenalkan senyum hangat mu yang setiap pagi kamu sandingkan dengan sapaan pagi di depan kelas, menyambut ku. Sederhana memang. Namun, aku terkesan dengan semua tingkah-tingkah kecil mu itu, seberapa pun tidak masuk akalnya aku menyukainya.
Sampai pada musim semi, aku masih dapat melihat kamu menggerakkan bibir mu saat berpapasan. Menyunggingkan senyum. Senyum siapa ? Bukan. Itu  bukan senyum yang aku lihat awal musim panas tahun lalu. Bukan senyum sapaan, bukan senyum hangat, terlebih senyum orang yang mendapat balasan senyum dari terkasihnya. Jelas bukan.

Tuan, aku ingin bertanya. Kenapa bisa kamu bisa mempunyai senyum yang berbeda ? Apa pantas jika aku menyebutnya senyum palsu ?Atau begini, lebih spesifik lagi.
-Senyum yang kamu gunakan untuk membentengi diri mu sendiri, untuk menutupi semua masalahamu-
Apa kamu berfikir,  ‘satu senyuman akan menghilangkan satu masalah’ , begitu ?
Apa setidaknya tidak kamu coba berhenti dari kepura-puraan mu ?
Untuk apa Tuan ? Untuk menunjukkan bahwa kamu tangguh ?

Sini, aku beritahu. Bahwa kamu, sudah cukup tangguh menghadapi manusia seegois aku. Aku tahu, kalau kamu selalu emosi jika aku memaksa mu untuk membuka sandiwara mu. Untuk apa kamu suguhi aku sandiwara dengangger senyum yang justru menjadi pemikat ku ?

Mulailah bercerita tuan, jangan terus bersandiwara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senja tahu caranya pamit

Lalu apa yang bisa dinikmati dari senja ? Disana hanya ada seseorang yang giat menunggu dan sibuk mengubur rindu. Mungkin melihat senja baginya menyenangkan dan tertawa di dalam ingatan. Miris sekali bukan ? Baginya senja lebih baik, tahu caranya berpamitan. Tidak lenyap hilang setelah pertemuan.

Surat Cinta Pertama

“Disini saya sebagai perwakilan murid baru mengucapkan terimakasih kepada kakak kelas dan bapak ibu guru yang telah membimbing kami selama masa orientasi dan juga kami berharap bapak ibu guru masih mau membimbing kami selama kami sekolah disini…..” Badannya yang tegap dan ucapannya yang mantap membuat semua orang dalam aula terkesima dengan pidatonya. Adalah Rama, siswa dengan nilai tertinggi saat pendaftaran di sekolah ini. Pantaslah dia dipilih menjadi perwakilan siswa baru. Dia mampu menyampaikan pidato rumitnya dengan lancar.  Dan sejak itulah aku mulai mengaguminya, sejak dia mengucapkan salam dan mengedarkan senyum ke seluruh penjuru aula.Tanpa alasan apapun, rasa ku dia tersenyum hanya untuk ku. Terhitung sudah hampir 3 tahun aku mengaguminya dengan segala daya tarik yang dia miliki. Aku belajar menyukai apa yang menjadi kecintaannya, mencari jarak sedekat mungkin hanya untuk melihatnya, menghabiskan waktu istirahat untuk memperhatikannya berkutat dengan buku...

Awal Mei

Tugas kelompok dari guru biologi awal Mei ini, mungkin adalah awal aku mengenal seperti apa gaya bercanda mu. Dan menjadi waktu kesekian kalinya aku melihat senyum dengan gigi rapih putih mu. Pesan singkat untuk janjian membahas tugas cukup membuat ku senyum-senyum geli, walaupun sepertinya kamu juga mengirimkan pesan semacam itu ke yang lainnya. Tapi, kamu berbeda. Ini hanya semacam perasaan suka, tidak lebih. Tidak, aku memang tidak mengharap lebih. Karen aku tahu, sikap lebih yang kamu tunjukan tidak untuk aku. Perempuan berambut sebahu yang duduk di depan mu di sudut café dekat sekolah hari Minggu kemarin, dia yang mungkin cukup puas melihat senyum mu. Yang dibuat tertawa oleh mu, disela-sela seruputan es Cappuccino kesukaan mu. Entah perempuan itu memang menyukai es Cappuccino atau hanya menyamai kesukaan mu. “Ada rasa sakit ketika melihat mu bahagia, itu karena bukan aku yang membahagiakan mu”- Zarry Hendrik Kata-kata Zarry Hendrik itu awalnya aku pikir cocok untuk ku ya...