“Pernah kah suatu hari,
saat hati mu terus-terusan berkata tidak,
menyangkal semua kenyataan. Namun diwaktu yang sama, di depan mereka justru
kamu melawan hati mu. Terus-terusan untuk
berkata iya.Pernah ?”
Awal musim panas lalu, kamu
memperkenalkan senyum hangat mu yang setiap pagi kamu sandingkan dengan
sapaan pagi di depan kelas, menyambut ku. Sederhana memang. Namun, aku terkesan
dengan semua tingkah-tingkah kecil mu itu, seberapa pun tidak masuk akalnya aku
menyukainya.
Sampai pada musim semi, aku masih dapat melihat kamu
menggerakkan bibir mu saat berpapasan. Menyunggingkan senyum. Senyum siapa ? Bukan.
Itu bukan senyum yang aku lihat awal
musim panas tahun lalu. Bukan senyum sapaan, bukan senyum hangat, terlebih
senyum orang yang mendapat balasan senyum dari terkasihnya. Jelas bukan.
Tuan, aku ingin bertanya. Kenapa bisa kamu bisa mempunyai
senyum yang berbeda ? Apa pantas jika aku menyebutnya senyum palsu ?Atau begini,
lebih spesifik lagi.
-Senyum yang kamu gunakan untuk membentengi diri mu sendiri,
untuk menutupi semua masalahamu-
Apa kamu berfikir, ‘satu
senyuman akan menghilangkan satu masalah’ , begitu ?
Apa setidaknya tidak kamu coba berhenti dari kepura-puraan
mu ?
Untuk apa Tuan ? Untuk menunjukkan bahwa kamu tangguh ?
Sini, aku beritahu. Bahwa kamu, sudah cukup tangguh
menghadapi manusia seegois aku. Aku tahu, kalau kamu selalu emosi jika aku
memaksa mu untuk membuka sandiwara mu. Untuk apa kamu suguhi aku sandiwara
dengangger senyum yang justru menjadi pemikat ku ?
Mulailah bercerita tuan, jangan terus bersandiwara.
Komentar
Posting Komentar