Tidak ada yang mempersilakan ku masuk. Tidak juga kau yang membukakan pintu, meski berkali-kali terdengar ketukan. Hanya saja bodoh ku yang selalu punya ruang ketika kau tidak mempunyai jalan pulang. Beberapa pertemuan membuat khayal ku semakin luas. Aku terlena dengan perasaan ku sendiri, hingga tak sadar sayatan mu justru semakin dalam. Kini setelah ditampar kenyataan berkali-kali, aku sadar. Ini adalah waktu untuk aku berhenti, meski perasaan ku belum menemui tepi.