Langsung ke konten utama

Jadi gimana ?

Gue jadi anak IPA, X IPA 1. Eh tapi di kurkul 2013 nyebutinnya mipa kan ya ? Ya pokoknya gue masuk situ deh, pas nyari-nyari kelas, langsung gue nemuin nama gue di kelas bekas lab ini. Nggak tau harus bangga atau gimana deh. Mungkin orang tua gue yang alhamdulillah, ya mereka itu pengen anaknya masuk IPA.

Gue takut keteteran masuk mipa, iyasih kata temen gue, gue itu menonjol di bidang eskak. Tapi pas SMP ulangan fisika nilai juga pas pasan dih, gimana ipa di SMA ? Kurkul 2013 banyak tugas, guru sedikit nerangin, dan buku juga blm ada. Duh 

Gue awalnya juga bingung mau kuliah ambil jurusan apa, karna jujur sih gue anak kecil yang masih bingung sama cita-citanya. Dulu SD gue pengen jadi guru, 2 tahun kemudian pengen jadi sekretaris kantoran, 2 tahun kemudian gue pengen jadi penulis, 2 tahun kemudian gue pengen jadi jurnalis. Itu gimana coba ? Tapi sekarang sepertinya gue pengen jadi guru, balik ke cita-cita awal gue. Semoga Alloh kasih jalan :)

Gue kalau kuliah nanti insyalloh bakal ambil FKIP Matematika, tapi masih belum tau juga sih mau kuliah dimana. Gue masih bingung dan belum dapet banyak referensi juga sih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senja tahu caranya pamit

Lalu apa yang bisa dinikmati dari senja ? Disana hanya ada seseorang yang giat menunggu dan sibuk mengubur rindu. Mungkin melihat senja baginya menyenangkan dan tertawa di dalam ingatan. Miris sekali bukan ? Baginya senja lebih baik, tahu caranya berpamitan. Tidak lenyap hilang setelah pertemuan.

Surat Cinta Pertama

“Disini saya sebagai perwakilan murid baru mengucapkan terimakasih kepada kakak kelas dan bapak ibu guru yang telah membimbing kami selama masa orientasi dan juga kami berharap bapak ibu guru masih mau membimbing kami selama kami sekolah disini…..” Badannya yang tegap dan ucapannya yang mantap membuat semua orang dalam aula terkesima dengan pidatonya. Adalah Rama, siswa dengan nilai tertinggi saat pendaftaran di sekolah ini. Pantaslah dia dipilih menjadi perwakilan siswa baru. Dia mampu menyampaikan pidato rumitnya dengan lancar.  Dan sejak itulah aku mulai mengaguminya, sejak dia mengucapkan salam dan mengedarkan senyum ke seluruh penjuru aula.Tanpa alasan apapun, rasa ku dia tersenyum hanya untuk ku. Terhitung sudah hampir 3 tahun aku mengaguminya dengan segala daya tarik yang dia miliki. Aku belajar menyukai apa yang menjadi kecintaannya, mencari jarak sedekat mungkin hanya untuk melihatnya, menghabiskan waktu istirahat untuk memperhatikannya berkutat dengan buku...

Awal Mei

Tugas kelompok dari guru biologi awal Mei ini, mungkin adalah awal aku mengenal seperti apa gaya bercanda mu. Dan menjadi waktu kesekian kalinya aku melihat senyum dengan gigi rapih putih mu. Pesan singkat untuk janjian membahas tugas cukup membuat ku senyum-senyum geli, walaupun sepertinya kamu juga mengirimkan pesan semacam itu ke yang lainnya. Tapi, kamu berbeda. Ini hanya semacam perasaan suka, tidak lebih. Tidak, aku memang tidak mengharap lebih. Karen aku tahu, sikap lebih yang kamu tunjukan tidak untuk aku. Perempuan berambut sebahu yang duduk di depan mu di sudut café dekat sekolah hari Minggu kemarin, dia yang mungkin cukup puas melihat senyum mu. Yang dibuat tertawa oleh mu, disela-sela seruputan es Cappuccino kesukaan mu. Entah perempuan itu memang menyukai es Cappuccino atau hanya menyamai kesukaan mu. “Ada rasa sakit ketika melihat mu bahagia, itu karena bukan aku yang membahagiakan mu”- Zarry Hendrik Kata-kata Zarry Hendrik itu awalnya aku pikir cocok untuk ku ya...