Langsung ke konten utama

Ah mungkin bagi dirimu hanya teman sekelas saja~

Seperti dikasih suplemen pembangkit semangat setiap pagi, aku akan berikan senyum sapaan pagi  bersaing dengan mereka yang melirik mu, berbisik dan senyumnya mengikuti langkah mu berbelok ke pintu kelas. Aku cukup tersenyum, tidak lebih dari itu. Ah lega rasanya jika sudah seperti itu, entah apa alasannya semua hari-hari disekolah terkesan membalas senyum ku ini. Untuk kamu tidak perlu membalas ku, menoleh sekali saja sudah bersyukur.

Ini aku, yang sering kamu sms kemudian tanya tugas, yang setiap rabu jumat kamu tanyai rumus dan cara, yang setiap akhir pelajaran kamu mintai buku catatan. Hai, penting kan peran ku ?

Tapi ya sepertinya tidak begitu peduli juga kamu. Hanya teman sekelas saja yang bisa kamu ajak tertawa dan yang bisa kamu mintai bantuan tentunya.

Seperti ini lebih baik, paling tidak aku punya alasan untuk didekat mu, komunikasi setiap malam, iya kan ? Ini jauh lebih menyenangkan, dibanding aku harus seperti awal lagi melirik mu ke belakang selalu memperhatikan mu diam-diam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senja tahu caranya pamit

Lalu apa yang bisa dinikmati dari senja ? Disana hanya ada seseorang yang giat menunggu dan sibuk mengubur rindu. Mungkin melihat senja baginya menyenangkan dan tertawa di dalam ingatan. Miris sekali bukan ? Baginya senja lebih baik, tahu caranya berpamitan. Tidak lenyap hilang setelah pertemuan.

Surat Cinta Pertama

“Disini saya sebagai perwakilan murid baru mengucapkan terimakasih kepada kakak kelas dan bapak ibu guru yang telah membimbing kami selama masa orientasi dan juga kami berharap bapak ibu guru masih mau membimbing kami selama kami sekolah disini…..” Badannya yang tegap dan ucapannya yang mantap membuat semua orang dalam aula terkesima dengan pidatonya. Adalah Rama, siswa dengan nilai tertinggi saat pendaftaran di sekolah ini. Pantaslah dia dipilih menjadi perwakilan siswa baru. Dia mampu menyampaikan pidato rumitnya dengan lancar.  Dan sejak itulah aku mulai mengaguminya, sejak dia mengucapkan salam dan mengedarkan senyum ke seluruh penjuru aula.Tanpa alasan apapun, rasa ku dia tersenyum hanya untuk ku. Terhitung sudah hampir 3 tahun aku mengaguminya dengan segala daya tarik yang dia miliki. Aku belajar menyukai apa yang menjadi kecintaannya, mencari jarak sedekat mungkin hanya untuk melihatnya, menghabiskan waktu istirahat untuk memperhatikannya berkutat dengan buku...

Awal Mei

Tugas kelompok dari guru biologi awal Mei ini, mungkin adalah awal aku mengenal seperti apa gaya bercanda mu. Dan menjadi waktu kesekian kalinya aku melihat senyum dengan gigi rapih putih mu. Pesan singkat untuk janjian membahas tugas cukup membuat ku senyum-senyum geli, walaupun sepertinya kamu juga mengirimkan pesan semacam itu ke yang lainnya. Tapi, kamu berbeda. Ini hanya semacam perasaan suka, tidak lebih. Tidak, aku memang tidak mengharap lebih. Karen aku tahu, sikap lebih yang kamu tunjukan tidak untuk aku. Perempuan berambut sebahu yang duduk di depan mu di sudut café dekat sekolah hari Minggu kemarin, dia yang mungkin cukup puas melihat senyum mu. Yang dibuat tertawa oleh mu, disela-sela seruputan es Cappuccino kesukaan mu. Entah perempuan itu memang menyukai es Cappuccino atau hanya menyamai kesukaan mu. “Ada rasa sakit ketika melihat mu bahagia, itu karena bukan aku yang membahagiakan mu”- Zarry Hendrik Kata-kata Zarry Hendrik itu awalnya aku pikir cocok untuk ku ya...