Langsung ke konten utama

5 menit di hari Sabtu.

*Kapan kita bertemu sayang ? apa kita seterusnya dekat sebatas ini ? kamu terlalu sibuk* ungkapnya suatu waktu.

Sekian detik aku diam, memikirkan balasan pesan singkatnya dengan lembut. Melenceng sedikit saja itu pasti akan membuatnya kesal. Dalam hati aku membenarkan, sampai kapan kedekatan ku dengannya hanya sebatas lewat sms ? Aku juga menginginkan dia yang nyata bukan sekedar emoticonnya.

*Sabtu besok bisa ? Kita ketemu ya sehabis pulang sekolah. Gimana ?:) *

*Iya, di lab IPA ya ? *

Khayalan kecil mulai tersusun di sekitar otak, menyusun cerita untuk Sabtu siang. Ini seperti dongeng indah pengantar tidur, pembawa mimpi indah. Hanya untuk hari Sabtu itu bel pulang sekolah seperti diperlambat, berbeda dari Sabtu biasanya. Benar-benar lama.

2 menit... 1 menit... 30 detik...

Dan 30 detik kemudian nada klasik yang menjadi bel sekolah ku terdengar menggembirakan. Tidak sabar aku berlari ke arah kelas sahabat ku, memintanya menemani ku menemui dia yang aku rindu. Sesuai kesepakatan, aku berjalan cepat menuju ruangan lab IPA. Sepi, kosong.

*kamu dimana ? Aku sudah di depan lab sama teman ku. * aku mengirim sms kepadanya

*kamu sama teman mu ya ? Bentar ya aku ada urusan.* balasnya 2 menit kemudian

Urusan apa ? Kamu kan yang mengajak bertemu ? Kenapa kamu yang mengulur waktu ? Aku hanya membatin.

15 menit dia tidak muncul juga, aku sudah cukup bosan hanya menunggu duduk diteras depan lab. Aku mengirimkan pesan singkat lagi.

*jadi bertemu tidak ? Aku pulang saja ya*

*tunggu sebentar, aku lagi jalan ke lab*

Balasan itu seharusnya membuat ku senang, tapi entah bagaimana aku bertambah kesal. Aku mengangkat badan, menggandeng teman ku beranjak dari teras lab IPA. Hanya beberapa langkah saja, senyum orang yang aku tunggu akhirnya muncul. Entah rasa kesal tadi masih, aku masih terus berjalan seakan meninggalkannya dibelakang.

"hey" teriaknya pelan

Aku menoleh dan berhenti "apa ? Sudah selesai urusannya ? "

"sudah, itu mau sparingan game nanti. "

"oh ya sudah sana, aku mau pulang." aku berlalu, berjalan cepat tanpa pamit.

"heh Gina ! Pulang bareng aku aja yuk !" aku mengabaikan teriakan itu.

Ini untuk 5 menit hari Sabtunya ? Hanya 5 menit dia terlihat nyata. Dia yang meminta, tapi aku yang kecewa. Dia hanya bersikap biasa saja.

"selalu saja aku disingkirin, game nya selalu diutamain" keluh ku pada sahabat ku
"kan hobby, lagian itu katanya buat pelampiasannya"
"tapikan ada aku"

Beberapa hari kemudian dia menuntut lagi, dia merengek minta bertemu.

*kenapa Sabtu waktu itu kamu sia-siain ?*

*aku ada urusan waktu itu*

*waktu ini aku banyak urusan*

Aku menbalas pesannya dengan datar atau mungkin malah terkesan jutek

*iya aku tahu kamu sibuk dengan les, mau ujian. Tapi nggak biasa diusahain sedikit waktu buat aku ? *

Dari balasan pesan singkat itu saja, aku sudah berpendapat dia mulai egois. Akhirnya Sabtu kita sepakati untuk bertemu, bukan di lab IPA seperti waktu itu, tapi di perpustakaan. Aku tidak mengharap banyak seperti Sabtu pertama kali, aku berjalan biasa. Seperti biasa, seperti sehari-harinya aku duduk di teras perpustakaan sehabis pulang sekolah dengan sahabat ku. Tapi hari ini, aku menunggu seseorang. Sampai sahabat ku dijemput, orang yang aku tunggu tidak juga nampak.

Apa selalu ya seperti ini ? Tanya ku dalam hati

Lama, sampai ada lelaki bersepeda putih menghampiri ku.

" darimana aja, yan ?" tanya ku
"hehehe "dia hanya tersenyum

Hanya itu ? Heran.

"ini buku apa ? " tanyanya sambil memegang buku yang aku pinjam
"ullyses moore"
"bagus ?"
"tentang petualangan."
"oh."

Hanya itu ? Iya. 5 menit di Sabtu lagi. Selebihnya dia pulang dan aku masuk ke perpustakaan.

Entah dia itu malu atau terlalu pengecut untuk memulai percakapan. Dia hanya bisa bercerita, tertawa, bercanda lewat tulisan. 1 tahun emoticon sms cukup mewakili. Setelah Sabtu di perpustakaan itu, tidak lagi lagi 5 menit hari Sabtu diwaktu lain. Kita hanya mengungkapkan rasa lewat kata-kata dengan campur tangan operator seluler. Bahkan bertemu atau berpapasan kita hanya diam, di alam nyata Ryan dan Gina tidak ada. Tidak ada kesepakatan sampai kapan seperti itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senja tahu caranya pamit

Lalu apa yang bisa dinikmati dari senja ? Disana hanya ada seseorang yang giat menunggu dan sibuk mengubur rindu. Mungkin melihat senja baginya menyenangkan dan tertawa di dalam ingatan. Miris sekali bukan ? Baginya senja lebih baik, tahu caranya berpamitan. Tidak lenyap hilang setelah pertemuan.

Surat Cinta Pertama

“Disini saya sebagai perwakilan murid baru mengucapkan terimakasih kepada kakak kelas dan bapak ibu guru yang telah membimbing kami selama masa orientasi dan juga kami berharap bapak ibu guru masih mau membimbing kami selama kami sekolah disini…..” Badannya yang tegap dan ucapannya yang mantap membuat semua orang dalam aula terkesima dengan pidatonya. Adalah Rama, siswa dengan nilai tertinggi saat pendaftaran di sekolah ini. Pantaslah dia dipilih menjadi perwakilan siswa baru. Dia mampu menyampaikan pidato rumitnya dengan lancar.  Dan sejak itulah aku mulai mengaguminya, sejak dia mengucapkan salam dan mengedarkan senyum ke seluruh penjuru aula.Tanpa alasan apapun, rasa ku dia tersenyum hanya untuk ku. Terhitung sudah hampir 3 tahun aku mengaguminya dengan segala daya tarik yang dia miliki. Aku belajar menyukai apa yang menjadi kecintaannya, mencari jarak sedekat mungkin hanya untuk melihatnya, menghabiskan waktu istirahat untuk memperhatikannya berkutat dengan buku...

Awal Mei

Tugas kelompok dari guru biologi awal Mei ini, mungkin adalah awal aku mengenal seperti apa gaya bercanda mu. Dan menjadi waktu kesekian kalinya aku melihat senyum dengan gigi rapih putih mu. Pesan singkat untuk janjian membahas tugas cukup membuat ku senyum-senyum geli, walaupun sepertinya kamu juga mengirimkan pesan semacam itu ke yang lainnya. Tapi, kamu berbeda. Ini hanya semacam perasaan suka, tidak lebih. Tidak, aku memang tidak mengharap lebih. Karen aku tahu, sikap lebih yang kamu tunjukan tidak untuk aku. Perempuan berambut sebahu yang duduk di depan mu di sudut cafĂ© dekat sekolah hari Minggu kemarin, dia yang mungkin cukup puas melihat senyum mu. Yang dibuat tertawa oleh mu, disela-sela seruputan es Cappuccino kesukaan mu. Entah perempuan itu memang menyukai es Cappuccino atau hanya menyamai kesukaan mu. “Ada rasa sakit ketika melihat mu bahagia, itu karena bukan aku yang membahagiakan mu”- Zarry Hendrik Kata-kata Zarry Hendrik itu awalnya aku pikir cocok untuk ku ya...